Equityworld Futures Semarang : Rencana biodiesel B40 Indonesia menghadapi penundaan baru karena harga sawit
Equityworld Futures Semarang - Rencana Indonesia untuk menaikkan kandungan bio wajib dalam biodiesel berbasis minyak sawitnya menjadi 40% mungkin menghadapi penundaan lebih lanjut, setelah harga minyak nabati yang tinggi membuat program itu terlalu mahal, kata seorang pejabat senior pemerintah kepada Reuters.
Indonesia, produsen dan eksportir minyak sawit terbesar di dunia, memiliki program biodiesel wajib dengan kandungan minyak sawit 30%, yang dikenal sebagai B30, tetapi bermaksud untuk memperluas penggunaan minyak untuk energi guna menghemat impor bahan bakar.
Pihak berwenang telah merencanakan untuk meningkatkan campuran menjadi 40% pada Juli tahun ini, tetapi jadwal untuk program B40 sekarang tidak jelas.
Indonesia mendanai program biodieselnya dengan hasil dari pungutan ekspor kelapa sawit.
Namun, pihak berwenang telah merevisi aturan pungutan tiga kali sejak tahun lalu karena mereka berusaha untuk mendukung program biodiesel setelah harga melonjak, tetapi tanpa merugikan ekspor.
Minyak sawit berjangka Malaysia mencapai rekor 4.560 ringgit ($1.089,35) per ton pada 12 Agustus dan telah diperdagangkan sekitar 4.300 ringgit baru-baru ini, sekitar 60% lebih tinggi dari tahun sebelumnya.
Dadan mengatakan tahun ini dibutuhkan Rp 45 triliun hingga Rp 46 triliun ($ 3,1 miliar-$ 3,2 miliar) untuk mendanai perbedaan antara penggunaan solar biasa dan asam lemak metil ester (FAME) berbasis kelapa sawit untuk B30.
Jika harga tetap konstan, pencampuran FAME 40% akan membutuhkan sekitar 60 triliun rupiah ($4,16 miliar), katanya, sambil mencatat mengadopsi B40 kemungkinan akan meningkatkan harga minyak sawit dengan menyusutkan pasokan global, membuat program ini semakin mahal.
Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) telah mengatakan pada Januari bahwa pihaknya memperkirakan B40 akan ditunda setelah tahun 2022.
Dari sisi teknis, Dadan mengatakan kandungan air dan monogliserida dalam FAME harus dikurangi agar B40 dapat bekerja, sehingga membutuhkan investasi baru oleh produsen biodiesel.
Meskipun biodiesel menjanjikan emisi yang lebih rendah, penggunaan minyak sawit sebagai bahan baku menimbulkan kekhawatiran tentang deforestasi dalam pembukaan lahan untuk menanamnya. Uni Eropa berencana untuk menghapusnya secara bertahap sebagai bahan bakar untuk transportasi.
News edited by Equityworld Futures Semarang

Komentar
Posting Komentar