Langsung ke konten utama

Equityworld Futures Semarang : Sudah Ambrol 3% Lebih, Kurs Dolar Australia Apa Kabar?


Equityworld Futures Semarang -
Hingga Senin kemarin, dolar Australia sudah mencatat penurunan dalam 8 dari 9 hari terakhir melawan rupiah. Selama periode tersebut, dolar Australia ambrol lebih dari 3%. Persentase tersebut bahkan bisa lebih besar lagi jika melihat level tertinggi yang dicapai pada 5 November lalu mendekati Rp 11.000/AU$. Setelahnya, tren turun pun dimulai.

Pada perdagangan Selasa (19/4/2022) pukul 9:42 WIB, dolar Australia diperdagangkan di kisaran 10.558/AU$, menguat 0,14% di pasar spot, melansir data Refinitiv.

Meski sudah merosot tajam, sepanjang tahun ini dolar Australia masih mencatat penguatan sekitar 2% melawan rupiah.

Tingginya harga komoditas, inflasi yang sudah mencapai target serta pemulihan ekonomi yang terus berlanjut membuat bank sentral Australia (Reserve Bank of Australia/RBA) membuka peluang kenaikan suku bunga di tahun ini.

Dolar Australia pun terus menanjak hingga nyaris menyentuh Rp 11.000/AU$ di awal bulan ini. Kini pelaku pasar menanti data inflasi kuartal I-2022 yang akan dirilis pada 27 April mendatang.

Akhir Januari lalu inflasi di kuartal IV-2021 dilaporkan tumbuh 1,3% dari kuartal sebelumnya. Sehingga inflasi selama setahun penuh menjadi 3,5% di 2021.

Kemudian inflasi inti tumbuh 1% di kuartal IV-2021 dari kuartal sebelumnya. Sepanjang 2021, inflasi inti tumbuh sebesar 2,6% yang merupakan level tertinggi sejak 2014. Kenaikan inflasi inti tersebut lebih tinggi dari ekspektasi ekonomi sebesar 2,3%, dan mencapai target RBA sebesar 2% sampai 3%.

Jika menunjukkan kenaikan, ekspektasi RBA akan agresif menaikkan suku bunga akan semakin menguat.

Dari dalam negeri, pelaku pasar hari ini menanti pengumuman kebijakan moneter dari Bank Indonesia (BI). Sejauh ini, BI masih konsisten dengan sikap dovish-nya.
Pekan lalu BI sekali lagi menegaskan belum akan menaikkan suku bunga sampai inflasi naik secara fundamental.

Gubernur BI, Perry Warjiyo, masih optimis tahun ini inflasi tetap terkendali dan masih berkisar pada asumsi semula, yaitu 2-4%, sekalipun kini harga barang dan jasa terus naik.
"Sejauh ini kami masih confident inflasi masih bisa terjaga 2-4%," ungkap Perry usai rapat Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK), Rabu (13/4/2022).

Perry sekali lagi menegaskan jika kebijakan moneter BI, terutama suku bunga tidak akan merespon first round impact dari kenaikan harga saat ini.

Seandaianya BI sedikit saja lebih hawkish, dengan memberikan sinyal akan menaikkan suku bunga di semester II-2022, rupiah bisa jadi akan perkasa.


 

Read More EWF PRO - Portal News

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Equityworld Futures Semarang : OPEC Beri Sinyal Kembali Pangkas Produksi Dorong Harga Minyak Naik

Equityworld Futures Semarang -  Harga minyak  mentah dunia naik hampir 3 persen, terangkat dari posisi terendahnya dalam lima bulan pada pekan ini. Kenaikan harga terjadi setelah Arab Saudi mengatakan OPEC hampir menyetujui untuk memperpanjang pengurangan produksi di luar Juni serta Wall Street yang tercatat menguat. Melansir laman  Reuters , Sabtu ( 8/6/2019 ), harga minyak mentah berjangka Brent naik USD 1,62, atau 2,6 persen menjadi USD 63,29 per barel. Harga minyak mentah West Texas Intermediate ( WTI ) AS berakhir USD 53,99 per barel, naik USD 1,40, atau 2,7 persen. kunjungi  PT. Equityworld Futures | Perusahaan Investasi Berjangka Harga minyak Brent membukukan penurunan mingguan ketiga, yang turun hampir 2 persen. Sementara harga WTI naik sekitar 1 persen pada pekan ini. Pada hari Rabu, kedua tolok ukur minyak dunia tersebut mencapai titik terendah sejak Januari. Menteri Energi Saudi Khalid al-Falih mengatakan dalam konferensi Pers di Rusia,...

PT Equityworld Futures Semarang – IHSG Diproyeksi Menguat pada Selasa (18/11/2025), Cek Rekomendasi Saham dari Analis

  PT Equityworld Futures Semarang – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat 0,55% ke level 8.416,88 pada akhir perdagangan Senin (17/11/2025). Penguatan ini terutama ditopang lonjakan saham-saham berkapitalisasi besar serta blue chips perbankan yang kembali mencatat kenaikan signifikan. Penguatan IHSG diprediksi masih akan berlanjut pada perdagangan Selasa (18/11/2025). Head of Equity Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Liza Camelia Suryanata menilai, penguatan IHSG pada Senin (17/11/2025) sebagian besar berasal dari saham-saham penggerak indeks. “Market cap besar yang naik itu BBCA naik 1,78%, DSSA 6,58%, TPIA 1,43%, BBRI 1,03%. Belum lagi BMRI naik 1,47% dan TLKM naik 1,69%. CUAN juga naik 2,33%. Kenaikan saham-saham big caps dan blue chips ini menjadi index mover utama,” ujar Liza kepada Kontan, Senin (17/11/2025). Dari eksternal, ia menyoroti bahwa meski pemerintah Amerika Serikat sudah keluar dari masa government shutdown, data ekonomi tidak akan langsung tersedia. ...

PT Equityworld Futures Semarang – IHSG Diramal Lanjut Menguat, Cermati Rekomendasi Saham untuk Jumat (24/10)

  PT Equityworld Futures Semarang – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan akan melanjutkan penguatan pada perdagangan Jumat (24/10/2025). Sentimen global masih akan mendominasi pergerakan harga indeks. Pada perdagangan Kamis (23/10/2025) kemarin, IHSG ditutup melonjak 1,49% ke level 8.274 pada akhir perdagangan Kamis (23/10/2025). Indeks juga sempat mencapai level intraday tertinggi baru di level 8.292. Equity Research Analyst Phintraco Sekuritas, Alrich Paskalis Tambolang menilai, sumber penguatan IHSG kemarin datang dari kabar rencana Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara untuk membentuk perusahaan pengelola aset baru hasil penggabungan entitas anak PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI). Jika berhasil, perusahaan ini diperkirakan memiliki dana kelolaan sekitar US$ 8 miliar.  Aksi korporasi ini ditaksir akan rampung pada semester I tahun 2026, namun belum ada keputusan final terkait hal ini....