PT Equityworld Futures Semarang – Harga minyak turun sedikit pada hari Rabu (27/12), mundur dari peningkatan kuat di sesi sebelumnya imbas gangguan pasokan di Laut Merah dan potensi penurunan suku bunga AS pada tahun 2024 memberikan dukungan untuk minyak.
Harga juga didorong oleh pemerintah AS yang menyelesaikan kontrak untuk membeli 3 juta barel minyak, yang bertujuan untuk mengisi kembali Cadangan Minyak Bumi Strategis (SPR) setelah cadangan tersebut ditarik ke posisi terendah dalam hampir 40 tahun di awal tahun ini.
Gangguan pengiriman di Laut Merah - yang berasal dari serangan terhadap kapal-kapal oleh kelompok Houthi Yaman yang bersekutu dengan Iran, merupakan titik kunci pendukung harga minyak dalam beberapa minggu terakhir, utamanya karena konflik ini menandai potensi penundaan pengiriman melalui Terusan Suez.
Konflik ini menunjukkan sedikit tanda-tanda mereda, lantaran AS meluncurkan gugus tugas angkatan laut untuk menghadirkan perdamaian di wilayah tersebut. Perang Israel-Hamas - yang merupakan inti dari serangan Houthi baru-baru ini - juga terus berkecamuk, dan Israel akan terus terlibat dalam perang selama berbulan-bulan.
Di luar gangguan geopolitik, harga minyak juga didorong oleh potensi pemangkasan suku bunga AS pada tahun 2024, setelah data terbaru isyarat penurunan inflasi AS yang berkelanjutan. Suku bunga yang lebih rendah diharapkan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi dan berpotensi meningkatkan permintaan minyak, kendati kapan Federal Reserve berencana untuk mulai memangkas suku bunga masih belum pasti.
Minyak Brent untuk penyerahan Februari turun 0,3% menjadi $80,82 per barel, sementara minyak minyak WTI turun 0,3% menjadi $75,42 per barel pukul 08.28 WIB. Kedua kontrak menguat lebih dari 2% pada hari Selasa.
Angka cadangan AS ditunggu, data tertunda
Fokus saat ini tertuju data cadangan AS, yang akan dirilis nanti pada Rabu dan Kamis, untuk mendapat petunjuk lebih lanjut mengenai pasokan di negara konsumen bahan bakar terbesar di dunia ini.
Rilis data cadangan minggu ini tertunda satu hari, karena hari libur Natal pada hari Senin.
Serangkaian peningkatan persediaan AS selama beberapa minggu terakhir telah mengguncang pasar minyak, terutama akibat meningkatnya stok bensin dan distilat menunjukkan penurunan permintaan bahan bakar di negara tersebut.
Peningkatan tersebut juga menyiratkan pasar yang kurang ketat pada tahun 2024 daripada yang diperkirakan sebelumnya - sebuah tren yang diprediksi akan membuat harga minyak tetap rendah.
Minyak siap alami kerugian di tahun 2023
Meskipun ada peningkatan baru-baru ini, minyak Brent dan WTI masih akan turun sekitar 7% pada tahun 2023.
Kekhawatiran atas importir utama China - karena rebound ekonomi gagal terwujud - merupakan beban utama bagi harga, seperti halnya kekhawatiran atas perlambatan permintaan minyak global karena tingginya suku bunga dan inflasi.
Pasokan minyak juga diperkirakan tidak seketat yang diperkirakan pada awal tahun 2024, menyusul pemangkasan produksi yang mengecewakan dari Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC), sementara produksi AS tetap berada pada rekor tertinggi.

Komentar
Posting Komentar