Langsung ke konten utama

PT Equityworld Futures Semarang – Harga Minyak Melonjak Nyaris 2% setelah Serangan Udara AS terhadap Houthi


PT Equityworld Futures Semarang – Harga minyak melonjak di perdagangan Asia pada hari Jumat (12/01) setelah pasukan pimpinan AS melancarkan serangan udara terhadap kelompok Houthi yang didukung Iran di Yaman dan ini meningkatkan kekhawatiran akan lebih banyak gangguan terhadap pasokan Timur Tengah.

Militer AS melakukan serangan udara terhadap beberapa wilayah yang dikuasai Houthi di Yaman pada hari Kamis malam, ungkap laporan media. Serangan ini terjadi tidak lama setelah Iran menyita sebuah kapal tanker minyak yang mengangkut minyak Irak di Teluk Oman.

Ketegangan dengan Iran dan serangan Houthi membuat beberapa operator pelayaran menjauhi wilayah tersebut, yang menyiratkan adanya potensi penundaan pengiriman minyak mentah melalui Terusan Suez.

Perang Israel-Hamas, yang merupakan inti dari ketidakstabilan baru-baru ini di Timur Tengah, juga tidak menunjukkan tanda-tanda akan berhenti.

Kekhawatiran yang terus berlanjut di Timur Tengah memberikan dukungan bagi harga minyak dalam beberapa minggu terakhir, terutama karena pasar khawatir bahwa konflik yang meluas di wilayah tersebut akan mengganggu pasokan minyak pada tahun 2024.

Minyak Brent yang akan berakhir Maret melonjak 1,9% ke $78,85 per barel, sementara minyak WTI naik hampir 2% menjadi $73,50 per barel pukul 08.08 WIB.
Ketegangan Timur Tengah bantu perdagangan minyak melewati rentetan sinyal negatif

Kekhawatiran atas gangguan pasokan membantu harga minyak naik meskipun ada serangkaian sinyal negatif minggu ini, meskipun masih akan raih kinerja mingguan yang lemah.

Data pada hari Kamis menunjukkan inflasi indeks harga konsumen AS tumbuh sedikit lebih tinggi dari yang diperkirakan pada bulan Desember, mengurangi harapan bahwa Federal Reserve akan mulai memangkas suku bunga awal tahun ini.

Sebelumnya, data cadangan AS pada hari Rabu menunjukkan peningkatan tak terduga stok minyak mentah, dengan cadangan bensin dan distilat mencatat kenaikan besar untuk minggu kedua. Angka tersebut menunjukkan bahwa permintaan di konsumen bahan bakar terbesar di dunia ini masih lemah, saat badai musim dingin yang parah yang semakin mengganggu perjalanan di negara tersebut.

Harga minyak telah mengalami awal yang lemah untuk minggu ini setelah negara eksportir utama Arab Saudi memangkas harga penjualan minyak ke Asia dan beberapa wilayah Eropa, akibat hadapi meningkatnya persaingan dan lemahnya permintaan.

Penguatan minyak minggu ini juga didorong oleh aksi bargain buying, setelah harga jatuh lebih dari 10% pada tahun 2023 dan turun lebih jauh pada minggu pertama tahun 2024. Kecuali gangguan di Timur Tengah, pasar minyak diperkirakan akan tetap dipasok dengan baik awal tahun 2024 pasalnya produksi AS yang mencapai rekor tertinggi, sementara permintaan diperkirakan akan melemah di tengah tekanan dari suku bunga tinggi dan inflasi.

Pengimpor minyak terbesar di dunia, China, juga akan mengalami penurunan permintaan, karena pemulihan ekonomi pasca-COVID masih belum pulih di negara tersebut. Inflasi dan perdagangan akan dirilis pada hari Jumat, dan diharapkan bisa memberi lebih banyak petunjuk.

PT Equityworld Futures Semarang

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Equityworld Futures Semarang : OPEC Beri Sinyal Kembali Pangkas Produksi Dorong Harga Minyak Naik

Equityworld Futures Semarang -  Harga minyak  mentah dunia naik hampir 3 persen, terangkat dari posisi terendahnya dalam lima bulan pada pekan ini. Kenaikan harga terjadi setelah Arab Saudi mengatakan OPEC hampir menyetujui untuk memperpanjang pengurangan produksi di luar Juni serta Wall Street yang tercatat menguat. Melansir laman  Reuters , Sabtu ( 8/6/2019 ), harga minyak mentah berjangka Brent naik USD 1,62, atau 2,6 persen menjadi USD 63,29 per barel. Harga minyak mentah West Texas Intermediate ( WTI ) AS berakhir USD 53,99 per barel, naik USD 1,40, atau 2,7 persen. kunjungi  PT. Equityworld Futures | Perusahaan Investasi Berjangka Harga minyak Brent membukukan penurunan mingguan ketiga, yang turun hampir 2 persen. Sementara harga WTI naik sekitar 1 persen pada pekan ini. Pada hari Rabu, kedua tolok ukur minyak dunia tersebut mencapai titik terendah sejak Januari. Menteri Energi Saudi Khalid al-Falih mengatakan dalam konferensi Pers di Rusia,...

PT Equityworld Futures Semarang – IHSG Diproyeksi Menguat pada Selasa (18/11/2025), Cek Rekomendasi Saham dari Analis

  PT Equityworld Futures Semarang – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat 0,55% ke level 8.416,88 pada akhir perdagangan Senin (17/11/2025). Penguatan ini terutama ditopang lonjakan saham-saham berkapitalisasi besar serta blue chips perbankan yang kembali mencatat kenaikan signifikan. Penguatan IHSG diprediksi masih akan berlanjut pada perdagangan Selasa (18/11/2025). Head of Equity Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Liza Camelia Suryanata menilai, penguatan IHSG pada Senin (17/11/2025) sebagian besar berasal dari saham-saham penggerak indeks. “Market cap besar yang naik itu BBCA naik 1,78%, DSSA 6,58%, TPIA 1,43%, BBRI 1,03%. Belum lagi BMRI naik 1,47% dan TLKM naik 1,69%. CUAN juga naik 2,33%. Kenaikan saham-saham big caps dan blue chips ini menjadi index mover utama,” ujar Liza kepada Kontan, Senin (17/11/2025). Dari eksternal, ia menyoroti bahwa meski pemerintah Amerika Serikat sudah keluar dari masa government shutdown, data ekonomi tidak akan langsung tersedia. ...

PT Equityworld Futures Semarang – IHSG Diramal Lanjut Menguat, Cermati Rekomendasi Saham untuk Jumat (24/10)

  PT Equityworld Futures Semarang – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan akan melanjutkan penguatan pada perdagangan Jumat (24/10/2025). Sentimen global masih akan mendominasi pergerakan harga indeks. Pada perdagangan Kamis (23/10/2025) kemarin, IHSG ditutup melonjak 1,49% ke level 8.274 pada akhir perdagangan Kamis (23/10/2025). Indeks juga sempat mencapai level intraday tertinggi baru di level 8.292. Equity Research Analyst Phintraco Sekuritas, Alrich Paskalis Tambolang menilai, sumber penguatan IHSG kemarin datang dari kabar rencana Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara untuk membentuk perusahaan pengelola aset baru hasil penggabungan entitas anak PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI). Jika berhasil, perusahaan ini diperkirakan memiliki dana kelolaan sekitar US$ 8 miliar.  Aksi korporasi ini ditaksir akan rampung pada semester I tahun 2026, namun belum ada keputusan final terkait hal ini....