Langsung ke konten utama

PT Equityworld Futures Semarang – Mata Uang Asia Melemah, Dolar Naik dengan Sinyal Suku Bunga dan Inflasi Jadi Fokus


PT Equityworld Futures Semarang – Sebagian besar mata uang Asia turun pada hari Senin (26/02), sedangkan dolar menguat kembali kala investor menunggu rentetan isyarat suku bunga dan inflasi AS yang akan dirilis pekan ini.

Antisipasi terhadap beberapa isyarat ekonomi regional - terutama inflasi Jepang dan data purchasing managers index China - juga membuat traders tetap waspada, terutama di tengah meningkatnya kecemasan akan melambatnya pertumbuhan di negara-negara dengan ekonomi terbesar di kawasan ini.

Yen Jepang bergerak di atas 150, data CPI ditunggu
Yen bergerak tipis pada hari Senin, namun bergerak jauh di atas level 150 terhadap dolar dan tetap dekat dengan level terendah tiga bulan.

Fokus minggu ini adalah data indeks harga konsumen (IHK) Jepang untuk bulan Januari, yang akan dirilis pada hari Selasa. Angka ini diperkirakan akan menunjukkan inflasi inti yang berada di dalam kisaran target tahunan 2% dari Bank of Japan, sehingga bank sentral tidak perlu melakukan pengetatan kebijakan secara agresif.

Gagasan ini telah menjadi pemberat utama pada yen dalam beberapa bulan terakhir, terutama dengan suku bunga AS yang kemungkinan akan tetap lebih tinggi untuk waktu yang lebih lama. Namun, penurunan lebih lanjut dalam yen dibatasi oleh ancaman potensi intervensi pemerintah, mengingat level di atas 150 telah menarik intervensi di masa lalu.

Dolar naik dengan inflasi PCE, isyarat Fed dalam fokus
Indeks dolar dan indeks dolar berjangka keduanya naik 0,1% di perdagangan Asia pada hari Senin, setelah mencatat pelemahan mingguan pertama tahun 2024.

Namun greenback tetap berada di dekat level tertinggi tiga bulan, saat sejumlah pejabat Federal Reserve memperingatkan bahwa bank tersebut tidak terburu-buru untuk mulai memangkas suku bunga lebih awal, terutama karena inflasi tetap tinggi.

Data Indeks harga PCE - yang merupakan pengukur inflasi pilihan the Fed - diperkirakan akan memberikan lebih banyak petunjuk mengenai inflasi minggu ini. Beberapa pejabat Fed juga diperkirakan akan berbicara minggu ini dan kemungkinan akan mengulangi prospek suku bunga yang lebih tinggi untuk waktu yang lebih lama.

Skenario ini menjadi pertanda buruk bagi pasar Asia, mengingat bahwa hal ini membatasi daya tarik aset-aset berimbal hasil tinggi dan berisiko tinggi. Sebagian besar mata uang regional jatuh pada hari Senin, dengan dolar Australia dan won Korea Selatan masing-masing turun 0,1%. Data IHK Australia untuk bulan Januari juga akan hadir minggu ini.

Rupee flat, sementara dolar Singapura turun 0,1%.

Yuan China flat sebelum tes PMI
Yuan China bergerak sedikit pada hari Senin setelah penetapan kurs tengah yang lebih kuat dari People's Bank.

Sentimen terhadap pasar China sebagian besar tetap khawatir sebelum rilis isyarat lanjutan mengenai ekonomi China, dari data purchasing managers index untuk bulan Februari, yang akan terbit minggu ini.

Kekhawatiran akan perlambatan pemulihan ekonomi merupakan pemberat utama pada yuan dalam beberapa bulan terakhir, membuat mata uang ini mendekati level terendah tiga bulan.

PT Equityworld Futures Semarang

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Equityworld Futures Semarang : OPEC Beri Sinyal Kembali Pangkas Produksi Dorong Harga Minyak Naik

Equityworld Futures Semarang -  Harga minyak  mentah dunia naik hampir 3 persen, terangkat dari posisi terendahnya dalam lima bulan pada pekan ini. Kenaikan harga terjadi setelah Arab Saudi mengatakan OPEC hampir menyetujui untuk memperpanjang pengurangan produksi di luar Juni serta Wall Street yang tercatat menguat. Melansir laman  Reuters , Sabtu ( 8/6/2019 ), harga minyak mentah berjangka Brent naik USD 1,62, atau 2,6 persen menjadi USD 63,29 per barel. Harga minyak mentah West Texas Intermediate ( WTI ) AS berakhir USD 53,99 per barel, naik USD 1,40, atau 2,7 persen. kunjungi  PT. Equityworld Futures | Perusahaan Investasi Berjangka Harga minyak Brent membukukan penurunan mingguan ketiga, yang turun hampir 2 persen. Sementara harga WTI naik sekitar 1 persen pada pekan ini. Pada hari Rabu, kedua tolok ukur minyak dunia tersebut mencapai titik terendah sejak Januari. Menteri Energi Saudi Khalid al-Falih mengatakan dalam konferensi Pers di Rusia,...

PT Equityworld Futures Semarang – IHSG Diproyeksi Menguat pada Selasa (18/11/2025), Cek Rekomendasi Saham dari Analis

  PT Equityworld Futures Semarang – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat 0,55% ke level 8.416,88 pada akhir perdagangan Senin (17/11/2025). Penguatan ini terutama ditopang lonjakan saham-saham berkapitalisasi besar serta blue chips perbankan yang kembali mencatat kenaikan signifikan. Penguatan IHSG diprediksi masih akan berlanjut pada perdagangan Selasa (18/11/2025). Head of Equity Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Liza Camelia Suryanata menilai, penguatan IHSG pada Senin (17/11/2025) sebagian besar berasal dari saham-saham penggerak indeks. “Market cap besar yang naik itu BBCA naik 1,78%, DSSA 6,58%, TPIA 1,43%, BBRI 1,03%. Belum lagi BMRI naik 1,47% dan TLKM naik 1,69%. CUAN juga naik 2,33%. Kenaikan saham-saham big caps dan blue chips ini menjadi index mover utama,” ujar Liza kepada Kontan, Senin (17/11/2025). Dari eksternal, ia menyoroti bahwa meski pemerintah Amerika Serikat sudah keluar dari masa government shutdown, data ekonomi tidak akan langsung tersedia. ...

PT Equityworld Futures Semarang – IHSG Diramal Lanjut Menguat, Cermati Rekomendasi Saham untuk Jumat (24/10)

  PT Equityworld Futures Semarang – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan akan melanjutkan penguatan pada perdagangan Jumat (24/10/2025). Sentimen global masih akan mendominasi pergerakan harga indeks. Pada perdagangan Kamis (23/10/2025) kemarin, IHSG ditutup melonjak 1,49% ke level 8.274 pada akhir perdagangan Kamis (23/10/2025). Indeks juga sempat mencapai level intraday tertinggi baru di level 8.292. Equity Research Analyst Phintraco Sekuritas, Alrich Paskalis Tambolang menilai, sumber penguatan IHSG kemarin datang dari kabar rencana Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara untuk membentuk perusahaan pengelola aset baru hasil penggabungan entitas anak PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI). Jika berhasil, perusahaan ini diperkirakan memiliki dana kelolaan sekitar US$ 8 miliar.  Aksi korporasi ini ditaksir akan rampung pada semester I tahun 2026, namun belum ada keputusan final terkait hal ini....