Langsung ke konten utama

PT Equityworld Futures Semarang – Mata Uang Asia Stabil setelah Target Ekonomi China Kurang Mendukung; Dolar juga Tenang


PT Equityworld Futures Semarang – Mata uang Asia mayoritas bergerak tipis pada hari Selasa [5/3] usai target ekonomi China untuk tahun 2024 gagal untuk menghidupkan pasar, sementara dolar stabil sebelum ada lebih banyak isyarat tentang suku bunga yang akan hadir pekan ini.

Antisipasi isyarat lanjutan suku bunga AS juga membuat sebagian besar mata uang regional diperdagangkan dalam kisaran yang ketat, terutama karena komentar dari pejabat Federal Reserve terus mengerdilkan ekspektasi untuk pemangkasan lebih awal.
Yuan China stabil, Kongres Rakyat Nasional kurang berkesan

Yuan China bergerak tipis pada hari Selasa, dengan kerugian dalam mata uang yang ditahan oleh penetapan kurs tengah yang kuat dari People's Bank of China.

Sentimen terhadap China mengalami sedikit perbaikan setelah Beijing menetapkan target PDB 5% untuk tahun 2024, sama seperti tahun 2023. Tetapi dengan target defisit fiskal yang lebih rendah untuk tahun ini, investor mempertanyakan seberapa besar target tersebut dapat dicapai, mengingat ekonomi tidak lagi memiliki dasar perbandingan yang lebih rendah dari pandemi COVID-19.

Pemerintah China juga menjanjikan lebih banyak langkah stimulus tahun ini untuk menopang pertumbuhan. Namun, kurangnya kejelasan mengenai langkah-langkah yang diusulkan tidak memberikan banyak dukungan.

Terpisah, sebuah survei swasta menunjukkan pertumbuhan sektor jasa China melambat di bulan Februari, yang menyiratkan berlanjutnya hambatan ekonomi bagi negara tersebut.

Mata uang-mata uang Asia yang lebih luas mengambil sinyal negatif dari China, mengingat keunggulan ekonomi negara ini di wilayah tersebut.

Dolar Australia, yang memiliki eksposur perdagangan yang tinggi ke China, turun 0,1%, bahkan ketika data menunjukkan peningkatan dalam current account negara tersebut pada kuartal keempat. Angka ini menandai potensi peningkatan dalam data PDB kuartal keempat, yang akan dirilis pada hari Rabu.

Dolar Singapura dan won Korea Selatan mundur, sementara rupee India stabil.

Yen Jepang bergerak di dekat level terendah empat bulan, bahkan ketika data menunjukkan inflasi di Tokyo naik seperti yang diperkirakan pada bulan Februari. Inflasi yang tinggi memberi Bank of Japan lebih banyak dorongan untuk menaikkan suku bunga dari tingkat yang sangat rendah.
Dolar stabil dengan Powell dan Payrolls akan hadir

Indeks dolar dan indeks dolar berjangka stabil di perdagangan Asia pada hari Selasa, setelah mengalami beberapa volatilitas dalam beberapa sesi terakhir.

Sementara data terbaru menunjukkan peningkatan inflasi AS, traders tampaknya sejauh ini mempertahankan ekspektasi bahwa Fed akan memangkas suku bunga pada bulan Juni.

Namun, perdagangan ini diperkirakan akan diuji pada minggu ini, dengan testimoni dua hari dari Ketua Fed Jerome Powell- di mana para analis memperkirakan ia akan mempertahankan kecenderungan hawkish-nya.

Setelah itu, data utama nonfarm payrolls akan dirilis pada hari Jumat ini, dan diharapkan bisa memberikan lebih banyak petunjuk mengenai pasar tenaga kerja.

PT Equityworld Futures Semarang

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Equityworld Futures Semarang : OPEC Beri Sinyal Kembali Pangkas Produksi Dorong Harga Minyak Naik

Equityworld Futures Semarang -  Harga minyak  mentah dunia naik hampir 3 persen, terangkat dari posisi terendahnya dalam lima bulan pada pekan ini. Kenaikan harga terjadi setelah Arab Saudi mengatakan OPEC hampir menyetujui untuk memperpanjang pengurangan produksi di luar Juni serta Wall Street yang tercatat menguat. Melansir laman  Reuters , Sabtu ( 8/6/2019 ), harga minyak mentah berjangka Brent naik USD 1,62, atau 2,6 persen menjadi USD 63,29 per barel. Harga minyak mentah West Texas Intermediate ( WTI ) AS berakhir USD 53,99 per barel, naik USD 1,40, atau 2,7 persen. kunjungi  PT. Equityworld Futures | Perusahaan Investasi Berjangka Harga minyak Brent membukukan penurunan mingguan ketiga, yang turun hampir 2 persen. Sementara harga WTI naik sekitar 1 persen pada pekan ini. Pada hari Rabu, kedua tolok ukur minyak dunia tersebut mencapai titik terendah sejak Januari. Menteri Energi Saudi Khalid al-Falih mengatakan dalam konferensi Pers di Rusia,...

PT Equityworld Futures Semarang – IHSG Diproyeksi Menguat pada Selasa (18/11/2025), Cek Rekomendasi Saham dari Analis

  PT Equityworld Futures Semarang – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat 0,55% ke level 8.416,88 pada akhir perdagangan Senin (17/11/2025). Penguatan ini terutama ditopang lonjakan saham-saham berkapitalisasi besar serta blue chips perbankan yang kembali mencatat kenaikan signifikan. Penguatan IHSG diprediksi masih akan berlanjut pada perdagangan Selasa (18/11/2025). Head of Equity Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Liza Camelia Suryanata menilai, penguatan IHSG pada Senin (17/11/2025) sebagian besar berasal dari saham-saham penggerak indeks. “Market cap besar yang naik itu BBCA naik 1,78%, DSSA 6,58%, TPIA 1,43%, BBRI 1,03%. Belum lagi BMRI naik 1,47% dan TLKM naik 1,69%. CUAN juga naik 2,33%. Kenaikan saham-saham big caps dan blue chips ini menjadi index mover utama,” ujar Liza kepada Kontan, Senin (17/11/2025). Dari eksternal, ia menyoroti bahwa meski pemerintah Amerika Serikat sudah keluar dari masa government shutdown, data ekonomi tidak akan langsung tersedia. ...

PT Equityworld Futures Semarang – IHSG Diramal Lanjut Menguat, Cermati Rekomendasi Saham untuk Jumat (24/10)

  PT Equityworld Futures Semarang – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan akan melanjutkan penguatan pada perdagangan Jumat (24/10/2025). Sentimen global masih akan mendominasi pergerakan harga indeks. Pada perdagangan Kamis (23/10/2025) kemarin, IHSG ditutup melonjak 1,49% ke level 8.274 pada akhir perdagangan Kamis (23/10/2025). Indeks juga sempat mencapai level intraday tertinggi baru di level 8.292. Equity Research Analyst Phintraco Sekuritas, Alrich Paskalis Tambolang menilai, sumber penguatan IHSG kemarin datang dari kabar rencana Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara untuk membentuk perusahaan pengelola aset baru hasil penggabungan entitas anak PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI). Jika berhasil, perusahaan ini diperkirakan memiliki dana kelolaan sekitar US$ 8 miliar.  Aksi korporasi ini ditaksir akan rampung pada semester I tahun 2026, namun belum ada keputusan final terkait hal ini....