
PT Equityworld Futures Semarang – Tokyo – Shigeru Ishiba, Perdana Menteri Jepang, menyatakan Jepang tidak berniat membatalkan perjanjian dagang yang telah ditandatangani dengan Amerika Serikat pada tahun 2019.
Namun, ia menegaskan, ada kekhawatiran serius atas ketidaksesuaian antara isi perjanjian tersebut dengan kebijakan tarif terbaru yang diberlakukan oleh Presiden Donald Trump.
Dalam sidang parlemen, Ishiba menyatakan, “Saya sama sekali tidak mempertimbangkan untuk kembali ke titik nol atau membatalkan perjanjian itu. Namun, kami merasa penting untuk terus menyuarakan keprihatinan terkait konsistensi antara kesepakatan 2019 dan kebijakan tarif terbaru.”
Kesepakatan 2019 tersebut dirancang untuk menurunkan tarif atas sejumlah produk, seperti produk pertanian AS dan alat berat Jepang. Meski tidak secara langsung mencakup sektor otomotif, Presiden Trump kala itu berjanji tidak akan memberlakukan tarif tambahan terhadap mobil Jepang, sebuah komitmen yang ditegaskan dalam pernyataan bersama dengan Perdana Menteri Jepang saat itu, Shinzo Abe.
Namun kini, Jepang dikenai tarif sebesar 25% atas impor mobil ke AS sebagai bagian dari kebijakan baru yang disebut Trump sebagai bagian dari perlindungan keamanan nasional (Section 232). Hal ini dianggap bertentangan dengan semangat kesepakatan sebelumnya.
Ishiba menambahkan bahwa Jepang akan terus menyampaikan kekhawatiran ini kepada pihak AS tanpa harus membatalkan perjanjian secara keseluruhan.
Ryosei Akazawa, Menteri Ekonomi Jepang, baru-baru ini mengunjungi Washington untuk memulai kembali negosiasi perdagangan bilateral.
Ia telah meminta pemerintah AS untuk meninjau ulang seluruh kebijakan tarif, termasuk tarif atas mobil impor. Pertemuan lanjutan antara kedua negara dijadwalkan sebelum akhir bulan ini.
Selain itu, Katsunobu Kato, Menteri Keuangan Jepang, juga dijadwalkan ke Washington untuk bertemu Scott Bessent, Menteri Keuangan AS, guna membahas isu nilai tukar. Tekanan terhadap mata uang yen dan spekulasi soal campur tangan Jepang dalam pasar valuta asing menjadi salah satu perhatian utama di tengah defisit perdagangan besar AS terhadap Jepang.
Saat ini, tarif 25% terhadap mobil tetap berlaku, bersama dengan tarif universal 10% atas berbagai produk ekspor Jepang, meskipun sebagian besar tarif ini untuk sementara ditangguhkan hingga awal Juli.
Komentar
Posting Komentar