Langsung ke konten utama

PT Equityworld Futures Semarang – Tak Selamanya Trump "Jahat" ke RI, Ini Buktinya

Terpilih lagi sebagai presiden AS, Donald Trump: Tuhan menyelamatkan hidup  saya karena sebuah tujuan - CNA.id: Berita Indonesia, Asia dan Dunia

PT Equityworld Futures Semarang – Keputusan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump untuk menaikkan tarif dan menggeser arah energi nasional nyatanya tak hanya menciptakan tekanan global tetapi juga peluang besar.
Bagi Indonesia, kebijakan proteksionis itu justru menjadi pemicu keuntungan untuk tiga komoditas : tembaga, emas, dan batu bara.

Kenaikan harga tembaga menjadi sinyal pertama. Setelah Trump mengumumkan tarif 50% untuk tembaga impor, harga logam merah itu melonjak ke rekor tertinggi sepanjang masa US$5,676 per pon atau US$12.510 per ton.

 

Di tengah disrupsi rantai pasok global dari Amerika Latin, Indonesia berada di posisi strategis.

Ekspor tembaga RI yang sebagian besar mengalir ke China dan Asia Tenggara tidak terdampak tarif AS, justru berpeluang mengisi kekosongan pasokan global. Bea keluar dari ekspor tembaga ikut melonjak hingga Rp14,6 triliun, tumbuh 327% dari target semester I 2025.

 

 Lain cerita dari sektor emas. Ketika "One Big Beautiful Bill Act" milik Trump lolos di Senat, pasar merespons cepat. Harga emas global naik 1,08% ke level US$3.338 per troy ons, didorong kekhawatiran inflasi dan defisit anggaran AS.

Harga emas bahan sudah mencetak rekor demi rekor di era Trump di posisi US$ 3.424,30 per troy ons pada 3 Juni 2025.

Jika dihitung perdagangan intraday, rekor harga intraday tertinggi dalam sejarah di US$ 3.500,05 yang tercipta pada 22 April 2025.

 

Emas sebagai aset safe haven mendapat momentum baru, dan Indonesia sebagai produsen besar turut menikmati sentimen positif. Di saat investor global menjauhi sektor berisiko, instrumen logam mulia kembali jadi primadona.

Batu bara jadi cerita paling kompleks. Meski bukan pasar utama RI, kebijakan Trump yang mencabut moratorium tambang, menurunkan royalti, dan menghapus insentif energi bersih, telah mengembalikan permintaan terhadap energi fosil. Proyek batu bara di AS mulai hidup kembali, dan saham sektor ini melesat mengungguli saham EV.

 

Di sisi lain, Indonesia sebagai eksportir batu bara terbesar dunia mencatat ekspor 405 juta ton pada 2024, naik 6,86% secara volume.

Nilainya memang sempat turun 11,8%, tapi tren pemulihan permintaan dari pasar non-AS seperti India dan Eropa diprediksi akan menopang rebound ke depan.

 

 Lanskap energi di Amerika Serikat (AS) sedang mengalami perubahan besar di era Trump, didorong oleh keputusan kebijakan yang mendorong kebangkitan batubara, sekaligus mengungkap kerentanan sektor energi terbarukan.

Lanskap tersebut terlihat dari Undang-Undang (RUU) Pajak yang baru saja disetujui.
Trump Bill memberi angin segar bagi industri batu bara dengan subsidi langsung dan pemangkasan insentif energi bersih. Versi Senat bahkan memperkuat posisi batu bara lebih jauh dibanding versi DPR, dengan menambahkan insentif pajak khusus untuk produsen batu bara.

Kebijakan ini bertujuan menggenjot produksi domestik dan menjaga lapangan kerja di sektor tambang.

Di sisi lain, subsidi untuk energi terbarukan seperti angin dan surya akan dihapus total setelah 2027, kecuali proyek yang sudah berjalan. Hasilnya, batu bara kembali kompetitif karena lawan utamanya tak lagi didukung fiskal.

Kebijakan di UU tersebut diharapkan bisa meningkatkan permintaan global terhadap batu bara.

Serangkaian kebijakan legislatif dan eksekutif terbaru, mulai dari pencabutan moratorium sewa batubara federal hingga insentif pajak untuk batubara metalurgi.

Langkah ini telah menciptakan dorongan jangka pendek yang kuat bagi para penambang batubara. Sementara itu, penghapusan bertahap insentif pajak energi bersih dan subsidi kendaraan listrik (EV) menimbulkan risiko besar bagi perusahaan energi terbarukan dan produsen EV.

Bagi investor, dikotomi ini membuka peluang langka untuk mengalokasikan kembali modal secara taktis ke aset-aset terkait batubara, sekaligus mengambil posisi short terhadap sektor-sektor yang terpapar risiko hilangnya subsidi.

Trump Bill memberi angin segar bagi industri batu bara dengan subsidi langsung dan pemangkasan insentif energi bersih. Versi Senat bahkan memperkuat posisi batu bara lebih jauh dibanding versi DPR, dengan menambahkan insentif pajak khusus untuk produsen batu bara.

Kebijakan ini bertujuan menggenjot produksi domestik dan menjaga lapangan kerja di sektor tambang.

Di sisi lain, subsidi untuk energi terbarukan seperti angin dan surya akan dihapus total setelah 2027, kecuali proyek yang sudah berjalan. Hasilnya, batu bara kembali kompetitif karena lawan utamanya tak lagi didukung fiskal.

Namun, langkah ini menuai kritik karena berpotensi menghambat transisi energi di tengah dorongan global menuju dekarbonisasi dan pembangunan berkelanjutan.

Kebijakan di RUU tersebut diharapkan bisa meningkatkan permintaan global terhadap batu bara.

Indonesia sebagai negara eksportir batu bara terbesar di dunia memiliki peluang untuk mendapatkan keuntungan dari kebijakan ini, baik melalui kenaikan harga batu bara global maupun peningkatan permintaan ekspor langsung ke AS.

Sebagai catatan, ekspor batu bara menopang sekitar 15-16% dari nilai ekspor Indonesia.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan volume ekspor batu bara Indonesia pada 2024 menyentuh 405,76 juta ton. Volume ekspor tersebut naik 6,86% dibandingkan pada 2023.

Namun, secara nilai, ekspor batu bara anjlok 11,86% menjadi US$ 30,49 miliar.

PT Equityworld Futures Semarang 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Equityworld Futures Semarang : OPEC Beri Sinyal Kembali Pangkas Produksi Dorong Harga Minyak Naik

Equityworld Futures Semarang -  Harga minyak  mentah dunia naik hampir 3 persen, terangkat dari posisi terendahnya dalam lima bulan pada pekan ini. Kenaikan harga terjadi setelah Arab Saudi mengatakan OPEC hampir menyetujui untuk memperpanjang pengurangan produksi di luar Juni serta Wall Street yang tercatat menguat. Melansir laman  Reuters , Sabtu ( 8/6/2019 ), harga minyak mentah berjangka Brent naik USD 1,62, atau 2,6 persen menjadi USD 63,29 per barel. Harga minyak mentah West Texas Intermediate ( WTI ) AS berakhir USD 53,99 per barel, naik USD 1,40, atau 2,7 persen. kunjungi  PT. Equityworld Futures | Perusahaan Investasi Berjangka Harga minyak Brent membukukan penurunan mingguan ketiga, yang turun hampir 2 persen. Sementara harga WTI naik sekitar 1 persen pada pekan ini. Pada hari Rabu, kedua tolok ukur minyak dunia tersebut mencapai titik terendah sejak Januari. Menteri Energi Saudi Khalid al-Falih mengatakan dalam konferensi Pers di Rusia,...

PT Equityworld Futures Semarang – IHSG Diproyeksi Menguat pada Selasa (18/11/2025), Cek Rekomendasi Saham dari Analis

  PT Equityworld Futures Semarang – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat 0,55% ke level 8.416,88 pada akhir perdagangan Senin (17/11/2025). Penguatan ini terutama ditopang lonjakan saham-saham berkapitalisasi besar serta blue chips perbankan yang kembali mencatat kenaikan signifikan. Penguatan IHSG diprediksi masih akan berlanjut pada perdagangan Selasa (18/11/2025). Head of Equity Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Liza Camelia Suryanata menilai, penguatan IHSG pada Senin (17/11/2025) sebagian besar berasal dari saham-saham penggerak indeks. “Market cap besar yang naik itu BBCA naik 1,78%, DSSA 6,58%, TPIA 1,43%, BBRI 1,03%. Belum lagi BMRI naik 1,47% dan TLKM naik 1,69%. CUAN juga naik 2,33%. Kenaikan saham-saham big caps dan blue chips ini menjadi index mover utama,” ujar Liza kepada Kontan, Senin (17/11/2025). Dari eksternal, ia menyoroti bahwa meski pemerintah Amerika Serikat sudah keluar dari masa government shutdown, data ekonomi tidak akan langsung tersedia. ...

PT Equityworld Futures Semarang – IHSG Diramal Lanjut Menguat, Cermati Rekomendasi Saham untuk Jumat (24/10)

  PT Equityworld Futures Semarang – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan akan melanjutkan penguatan pada perdagangan Jumat (24/10/2025). Sentimen global masih akan mendominasi pergerakan harga indeks. Pada perdagangan Kamis (23/10/2025) kemarin, IHSG ditutup melonjak 1,49% ke level 8.274 pada akhir perdagangan Kamis (23/10/2025). Indeks juga sempat mencapai level intraday tertinggi baru di level 8.292. Equity Research Analyst Phintraco Sekuritas, Alrich Paskalis Tambolang menilai, sumber penguatan IHSG kemarin datang dari kabar rencana Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara untuk membentuk perusahaan pengelola aset baru hasil penggabungan entitas anak PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI). Jika berhasil, perusahaan ini diperkirakan memiliki dana kelolaan sekitar US$ 8 miliar.  Aksi korporasi ini ditaksir akan rampung pada semester I tahun 2026, namun belum ada keputusan final terkait hal ini....