Langsung ke konten utama

PT Equityworld Futures Semarang – Minyak Menguat Tipis Usai Optimisme Data China

Menggali Manfaat Minyak dan Gas Bumi untuk Energi Kehidupan - Petro  Training Asia 

PT Equityworld Futures Semarang – Harga minyak naik pada Selasa (20/1) setelah data pertumbuhan ekonomi China yang lebih kuat dari perkiraan memicu optimisme permintaan. Namun pasar juga tetap waspada, karena Presiden AS Donald Trump kembali mengancam akan menaikkan tarif impor AS untuk sejumlah negara Eropa, seiring ambisinya ingin “membeli” Greenland.

Kontrak berjangka Brent naik 19 sen (0,3%) ke $64,13 per barel pada pukul 01.00 GMT. Sementara itu, kontrak minyak mentah AS WTI Februari—yang jatuh tempo pada Selasa—naik 25 sen (0,4%) dari penutupan Jumat ke $59,69. Kontrak WTI Maret yang lebih aktif diperdagangkan naik 0,08 sen (0,13%) ke $59,42. WTI tidak mencatat settlement pada Senin karena libur Martin Luther King Jr. Day di AS.

Menurut analis pasar IG, Tony Sycamore, WTI bergerak naik tipis dan mendapat dukungan dari data PDB China kuartal IV 2025 yang lebih baik dari ekspektasi. Ia menilai ketahanan ekonomi China—sebagai importir minyak terbesar dunia—ikut mengangkat sentimen permintaan global.

Data yang dirilis Senin menunjukkan ekonomi China tumbuh 5,0% sepanjang tahun lalu, sesuai target pemerintah. Pertumbuhan ini didorong strategi mendorong ekspor dan merebut porsi permintaan global barang, untuk menutupi konsumsi domestik yang masih lemah. Strategi itu sempat meredam dampak tarif AS, tapi dinilai makin sulit dipertahankan.

Dari sisi industri energi, laju pemrosesan kilang (refinery throughput) China pada 2025 naik 4,1% (yoy), sementara produksi minyak mentah meningkat 1,5%. Keduanya disebut mencapai rekor tertinggi sepanjang masa, memperkuat narasi bahwa aktivitas energi China tetap kencang.

Di sisi lain, ketegangan dagang kembali memanas pada akhir pekan. Trump mengatakan AS akan mengenakan tarif tambahan 10% mulai 1 Februari untuk barang impor dari Denmark, Norwegia, Swedia, Prancis, Jerman, Belanda, Finlandia, dan Inggris. Tarif itu bahkan bisa naik menjadi 25% mulai 1 Juni bila tidak ada kesepakatan terkait Greenland.

Sycamore juga menambahkan, pelemahan dolar AS ikut memberi “angin belakang” untuk harga minyak. Dolar turun sekitar 0,3% terhadap mata uang utama lainnya, dan dolar yang melemah biasanya membuat minyak (yang dihargai dalam dolar) lebih murah bagi pembeli di luar AS.

Pasar juga memantau sektor minyak Venezuela setelah Trump menyatakan AS akan “menjalankan” industri tersebut menyusul penangkapan Presiden Nicolas Maduro. Sementara itu, sumber perdagangan menyebut Vitol menawarkan minyak Venezuela ke pembeli China dengan diskon sekitar $5 per barel terhadap ICE Brent untuk pengiriman April.

Terakhir, China dikabarkan mengimpor minyak mentah Urals Rusia paling banyak sejak 2023, dengan harga lebih murah dibanding minyak Iran. Ini terjadi setelah pembeli besar seperti India mengurangi impor tajam karena sanksi Barat, dan menjelang larangan Uni Eropa terhadap produk yang dibuat dari minyak Rusia—berdasarkan sumber perdagangan dan data pengiriman.

PT Equityworld Futures Semarang 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Equityworld Futures Semarang : OPEC Beri Sinyal Kembali Pangkas Produksi Dorong Harga Minyak Naik

Equityworld Futures Semarang -  Harga minyak  mentah dunia naik hampir 3 persen, terangkat dari posisi terendahnya dalam lima bulan pada pekan ini. Kenaikan harga terjadi setelah Arab Saudi mengatakan OPEC hampir menyetujui untuk memperpanjang pengurangan produksi di luar Juni serta Wall Street yang tercatat menguat. Melansir laman  Reuters , Sabtu ( 8/6/2019 ), harga minyak mentah berjangka Brent naik USD 1,62, atau 2,6 persen menjadi USD 63,29 per barel. Harga minyak mentah West Texas Intermediate ( WTI ) AS berakhir USD 53,99 per barel, naik USD 1,40, atau 2,7 persen. kunjungi  PT. Equityworld Futures | Perusahaan Investasi Berjangka Harga minyak Brent membukukan penurunan mingguan ketiga, yang turun hampir 2 persen. Sementara harga WTI naik sekitar 1 persen pada pekan ini. Pada hari Rabu, kedua tolok ukur minyak dunia tersebut mencapai titik terendah sejak Januari. Menteri Energi Saudi Khalid al-Falih mengatakan dalam konferensi Pers di Rusia,...

PT Equityworld Futures Semarang – IHSG Diproyeksi Menguat pada Selasa (18/11/2025), Cek Rekomendasi Saham dari Analis

  PT Equityworld Futures Semarang – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat 0,55% ke level 8.416,88 pada akhir perdagangan Senin (17/11/2025). Penguatan ini terutama ditopang lonjakan saham-saham berkapitalisasi besar serta blue chips perbankan yang kembali mencatat kenaikan signifikan. Penguatan IHSG diprediksi masih akan berlanjut pada perdagangan Selasa (18/11/2025). Head of Equity Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Liza Camelia Suryanata menilai, penguatan IHSG pada Senin (17/11/2025) sebagian besar berasal dari saham-saham penggerak indeks. “Market cap besar yang naik itu BBCA naik 1,78%, DSSA 6,58%, TPIA 1,43%, BBRI 1,03%. Belum lagi BMRI naik 1,47% dan TLKM naik 1,69%. CUAN juga naik 2,33%. Kenaikan saham-saham big caps dan blue chips ini menjadi index mover utama,” ujar Liza kepada Kontan, Senin (17/11/2025). Dari eksternal, ia menyoroti bahwa meski pemerintah Amerika Serikat sudah keluar dari masa government shutdown, data ekonomi tidak akan langsung tersedia. ...

PT Equityworld Futures Semarang – IHSG Diramal Lanjut Menguat, Cermati Rekomendasi Saham untuk Jumat (24/10)

  PT Equityworld Futures Semarang – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan akan melanjutkan penguatan pada perdagangan Jumat (24/10/2025). Sentimen global masih akan mendominasi pergerakan harga indeks. Pada perdagangan Kamis (23/10/2025) kemarin, IHSG ditutup melonjak 1,49% ke level 8.274 pada akhir perdagangan Kamis (23/10/2025). Indeks juga sempat mencapai level intraday tertinggi baru di level 8.292. Equity Research Analyst Phintraco Sekuritas, Alrich Paskalis Tambolang menilai, sumber penguatan IHSG kemarin datang dari kabar rencana Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara untuk membentuk perusahaan pengelola aset baru hasil penggabungan entitas anak PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI). Jika berhasil, perusahaan ini diperkirakan memiliki dana kelolaan sekitar US$ 8 miliar.  Aksi korporasi ini ditaksir akan rampung pada semester I tahun 2026, namun belum ada keputusan final terkait hal ini....